Thursday, July 28, 2011

The Evolution of Fiqh: Sejarah Perkembangan Hukum Islam


Dr. Abu Ameenah Bilal Philips, atau biasa disapa dengan Dr. Bilal, adalah salah satu penulis buku Islam favorit saya. Beliau lahir di Jamaica dari keluarga kristen, kemudian beliau bermigrasi ke Canada dan kemudian memeluk Islam di tahun 70an. Setelah itu beliau melanjutkan studi di Madinah dan Riyadh, dan mendapatkan gelar Doktor dari University of Wales. Beberapa kali saya sempat bertemu dengan beliau di masjid dekat rumah karena rumah kami memang berdekatan. Walaupun beliau adalah ulama besar, namun beliau sangat tawadlu dan rendah hati.


Saya dan Dr. Bilal ketika menjalankan ibadah haji
Salah satu beliau yang saya punya adalah The Evolution of Fiqh. Buku berbahasa Inggris ini membahas tuntas tentang perkembangan Fiqih (hukum Islam) sejak zaman Nabi Muhammad saw hingga kini. Buku ini adalah text book wajib bagi mahasiswa Islamic Online University untuk mata kuliah Fiqh 101. Selain berbahasa inggris saya juga mendapatkan terjemahan bahasa Indonesia yang berjudul Evolusi Fiqih (Cetakan Anjana Pustaka), bersampul depan Masjid Al-Haram di era Utsmaniyah, lengkap dengan Maqam-maqam sesuai madzhab.




Pembahasan sejarah Fiqh dalam buku ini dibahas secara urut dan mudah diikuti. Dimulai dari era Rasulullah saw sebagai tahapan pertama yaitu peletakan dasar, kemudian masa Khulafa Ar-Rasyidin sebagai tahap pembentukan. Tahap ketiga adalah tahap pembangunan yaitu di masa Dinasti bani Umayyah, dilanjutkan tahap perkembangan di era Dinasti bani Abbasiyah, dan selanjutnya tahapan Stagnasi/Kemunduran yang dimulai dari jatuhnya Bani Abbasiyah karena invasi pasukan Mongol.


Disamping pembahasan ciri dan karakter tahapan evolusi Fiqh di berbagai masa, buku ini juga banyak menjelaskan tentang macam-macam Madzhab yang pernah ada. Bukan hanya 4 madzhab seperti yang kita kenal selama ini (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali), tetapi beberapa madzhab lain yang sudah hilang yaitu seperti Zaydii, Laytsi, Tsawri, Dzahiri dan Jariri. Semua madzhab tersebut dikupas tuntas beserta sejarah imam pendirinya.


Di dalam buku ini Dr. Bilal juga mengkritik adanya Taqlid (mengikuti suatu madzhab secara "buta"). Dengan mengutip beberapa riwayat bahwa para Imam pendiri madzhabpun sebenarnya menentang adanya Taqlid. Contohnya Imam Abu Hanifah melarang murid-muridnya untuk mencatat pendapatnya sebelum diperdebatkan secara mendalam dan disetujui oleh semua murid-muridnya. Kemudian pernyataan Imam Asy-Syafi'i, "Bila ditemukan sebuah hadits shohih, maka itu adalah madzhabku", pernyataan hampir sama juga dikemukan oleh Imam Abu Hanifah.


Secara garis besar, buku ini mengajak segenap umat muslim untuk kembali bersatu untuk memahami dan menjalankan hukum Islam yang sesuai dengan Al Quran, Sunnah Rasulullah saw dan pemahaman para sahabat.

Wednesday, July 27, 2011

Cracking Zone: "The XL Story"



Siapa yang ga kenal Prof. Rhenald Kasali. Beliau adalah guru besar FEUI dan salah satu pakar manajemen di Indonesia. Bukunya terbaru berjudul Cracking Zone ini, saya dapatkan di sebuah toko butik Indonesia di Doha. Sebelumnya beliau sudah banyak menerbitkan buku-buku best seller, beberapa diantaranya judulnya ialah Change, Myelin, Recode Your Change DNA, dan masih banyak lainnya, yang mana kebanyakan tentang business management dan personal development.


Buku ini adalah buku pertama beliau yang saya baca, sebelumnya saya hanya senang nonton acara TVnya dan membaca artikel beliau di media massa. Sebetulnya bukunya mempunyai subjudul yaitu "Revolusi gaya hidup ketika income per kapita kita menembus US$ 3,000 dan bagaimana menangkap peluang ini". Sedangkan di judul postingan saya ini saya beri subjudul "The XL Story" karena (kira-kira) 3/4 bagian dari buku ini membahas tentang XL (baca: PT. XL Axiata).


Dalam buku ini, Prof. Rhenald membahas tuntas bagaimana XL men-crack dunia pertelekomunikasian Indonesia, yaitu dengan mentransformasi brand imagenya dari operator telekomunikasi premium menjadi freemium. Semenjak mayoritas sahamnya dikuasai oleh TM (Telekom Malaysia), ownernya memberikan target kepada manajemen XL untuk meraih posisi nomer 2 di Indonesia. Maka manajemen XL berpikir keras untuk mencapai target ini, apalagi ditambah dengan kedatangan beberapa operator baru, baik GSM maupun CDMA, yang menawarkan tarif murah. Berbagai gebrakan dilakukan XL, yaitu memangkas tarif bicara sampai ke titik terendah, membuat iklan yang kontroversial (kawin dengan kambing/monyet), dan lain-lain.


Bukan hanya bercerita tentang XL, buku ini juga membahas tentang fenomena RBT (Ring Back Tone) karena telah menyelamatkan artis musik dari kebangkrutan akibat habisnya era kaset dan CD. Juga cerita tentang Pandji Pragiwicaksono dan Kangen Band. Yang terakhir, buku ini mengajari kita untuk menjadi cracker, bukan hanya sekedar manajer atau leader.


Buat saya, buku ini agak sedikit membosankan. Boleh jadi karena seperti yang saya bilang bahwa isinya 75% tentang XL dan ceritanya banyak yang diulang-ulang. Padahal kalau saja Prof. Rhenald mau berkisah banyak tentang Management Cracker, masih banyak lagi yang bisa diangkat. Seperti bagaimana Sir Richard Branson mengekspansi Virgin menjadi perusahaan segala bidang, Apple setelah kembalinya Steve Job, Air Asia sebagai pelopor maskapai penerbangan murah, dan masih banyak lagi perusahaan di dunia yang menginspirasi untuk menjadi sebuah Cracker Company.


Walaupun membosankan, banyak ilmu baru yang bermanfaat. Walaupun saya baru belajar enterpreuneurship kecil-kecilan, ga salah kalo banyak belajar dari perusahaan-perusahaan besar mengenai manajemennya.

Saturday, July 23, 2011

Dwilogi Padang Bulan: The Real Maryamah Karpov's Novel






Dwilogi Padang Bulan, itulah judulnya. Karena diambil dari judul buku I "Padang Bulan", sedang buku II berjudul "Cinta di Dalam Gelas". Buku ini masih kelanjutan dari Tetralogi Laskar Pelangi (berarti seharusnya Hexalogy). Entah mengapa di buku I, AH menamainya dengan "Padang Bulan", saya sendiri tak tahu kenapa. Sedang buku II banyak berkisah tentang "kopi", sehingga itu judulnya ada embel-embel "di Dalam Gelas".

Uniknya dari buku ini, tidak ada halaman belakang. Kedua sisi buku adalah halaman muka. Hal semacam ini baru saya temui di Indonesia, sedangkan disini (Arab), hal seperti ini biasa ditemui di berbagai majalah bi-lingual. Sedangkan bagian tengah buku (berarti halaman belakang dari kedua buku) terdapat halaman advertorial dari Tetralogi Laskar Pelangi, international edition.

Berbeda dengan ilustrasi buku-buku sebelumnya yang cenderung menampilkan siluet, gambar cover buku ini dibuat ilustrasi artistik. Buku I menampilkan pohon dan 2 ekor burung hinggap di dahannya (terus apa hubungannya dengan Padang Bulan ya?). Tebakan saya, cover ini ada hubungannya di cerita Seribu Malaikat (Mozaik 12), kisah Ikal yang memberikan kejutan ultah pada A Ling. Sedangkan di buku II, covernya menggambarkan 4 orang yang berbeda-beda, dan tebakan saya, mereka adalah (searah jarum jam mulai dari kiri atas) A Ling, Ikal, Ninochka Stronovsky, dan Maryamah.

Cerita buku I ini dimulai dari kisah Enong dan keluarganya. Berlatar masih di pulau Belitong. Si Enong adalah anak yang pintar dan rajin belajar, dia sangat menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Tapi kehidupan Enong seketika berubah karena ayahnya meninggal saat menambang timah. Sebagai anak sulung, dia harus keluar dari sekolah dan mencari kerja demi menghidupi ibu dan adik-adiknya. Karena tidak ada seorangpun yang menerimanya sebagai pegawai, akhirnya Enong banting setir mengikuti jejak ayahnya sebagai penambang timah. Jadilah dia seorang perempuan penambah timah pertama, pada saat berusia 14 tahun.

Bukan hanya kisah hidup Enong yang ada di buku I ini. Cerita cinta A Ling dan Ikal juga ada disini, melanjutkan dari cerita di Novel "Maryamah Karpov" yang belum usai. Dimulai dari penolakan ayah Ikal atas hubungan mereka berdua. Kemudian ada laki-laki lain yang datang sebagai pihak ketiga, yang membuat Ikal cemburu buta sampai akhirnya hampir "bunuh diri". Sama halnya dengan novel "Maryamah Karpov", kisah cinta Ikal - A Ling ini dikisahkan Andrea Hirata dengan lebay bombay. Sampai saya tidak habis pikir, masak seorang lulusan Master di Eropa bisa kehilangan akal rasio demi cinta. Benarlah apa kata Panglima Tian Feng, "Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir".

Setelah disuguhi drama percintaan dua insan (yang membuat saya agak eneg) dan sekedar pembukaan kisah hidup seorang Enong, di buku II, Andrea Hirata menceritakan tentang kelanjutan perjuangan Enong a.k.a Maryamah binti Zamzami a.k.a Maryamah Karpov. Bagaimana si Maryamah terobsesi untuk membalaskan "dendam" pada mantan suaminya dengan cara mengalahkannya bermain catur. Padahal Maryamah sendiri sama sekali tidak bisa bermain catur. Disinilah kata-kata ajaib itu ditemukan, "Ajari aku hal yang tersulit sekalipun, boi. Aku akan belajar". Ikal dan teman-temannya membantu Maryamah agar bisa memenangkan pertandingan catur si acara 17an. Akankah Maryamah berhasil menjadi perempuan juara catur pertama ?

Di Buku II ini, Andrea Hirata memperlihatkan kehebatannya dalam memainkan kata-kata. Bukan hanya tentang catur, tapi juga tentang kopi. AH bisa membuat pembacanya berimajinasi pertandingan catur berubah menjadi medan perang yang sebenarnya. Dan juga AH bercerita banyak tentang peminum kopi dengan pendekatan psikologis dan sosio-kultural yang sangat detail, sehingga seolah-olah pembaca juga ikut nongkrong di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, milik paman Ikal.

Anyhow menurut saya, Dwilogi Padang Bulan inilah yang seharusnya menjadi buku ke-4 dari Tetralogi Laskar Pelangi. Andrea Hirata menuntaskan kebingungan para pembaca bukunya, yang merasa novel "Maryamah Karpov" itu diluar ekspektasi mereka. Buku ini sangat menarik untuk dibaca untuk menggugah semangat (exclude, bagian kisah cinta Ikal - A Ling), karena kata-kata yang bergaya bahasa Melayu itu bisa menghiptonis pembaca untuk selalu terus belajar dan berjuang untuk hidup dan siap akan menghadapi rintangan macam apapun.



Judul : Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Genre : Novel
Halaman : 254 + 270